Ruang Sela Logo
Ruang SelaDaily Devotion
kasih • pengharapan18 Mei 20263 menit baca 41

Tuhan Tidak Pergi, Aku yang Perlahan Menjauh

    Tuhan Tidak Pergi, Aku yang Perlahan Menjauh

"Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia."

Lukas 15 : 20


Setiap hari rasanya aku ingin berdoa.

Aku menikmati saat teduh.

Aku membaca Alkitab bukan karena kewajiban, tapi karena aku benar-benar haus akan Tuhan.

Dan walaupun hidupku waktu itu belum mengalami perubahan besar atau breakthrough yang luar biasa, anehnya… hatiku tetap tenang. Ada damai yang sulit dijelaskan. Aku merasa dicukupkan dan disertai Tuhan.

Sampai akhirnya, tepat di hari Jumat Agung, mobilku ditabrak.

Tapi yang aneh, aku tidak marah.

Aku juga tidak panik.

Aku hanya bersyukur karena aku tidak terluka sedikit pun. Bahkan sore harinya aku masih bisa pergi beribadah.

Di tengah kejadian itu, aku merasa Tuhan tetap menjaga dan menyertaiku.

Dan benar saja, tidak lama setelah itu, tiba-tiba istri sepupuku menawarkan untuk meminjamkan mobilnya kepadaku. Padahal sebelumnya kami hanya bertemu secara tidak sengaja di sebuah pesta ulang tahun.

Buat orang lain mungkin itu kebetulan.

Tapi buatku, itu cara Tuhan memelukku pelan-pelan.

Awalnya aku pikir semua akan cepat selesai.

Bengkel bilang kerusakannya tidak terlalu parah dan mobilku akan selesai bulan April. Tapi ternyata semuanya tidak semudah itu. Setelah dicek ulang, sasis mobilku ternyata kena. Perbaikannya molor sampai akhir Mei. Dan aku tahu artinya:mobil itu tidak akan pernah benar-benar sama lagi. Nilai jualnya turun. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sudah aku jaga baik-baik. Belum lagi keadaan bisnis yang sedang stagnan. Perlahan aku mulai lelah.

Aku mulai mempertanyakan banyak hal.

“Tuhan… kenapa harus terjadi seperti ini?”

“Kenapa di saat aku sedang berusaha dekat dengan-Mu, justru banyak hal terasa berat?”

Aku sempat kecewa.

Sempat kehilangan arah.

Dan diam-diam mulai lelah secara hati.

Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang tetap aku usahakan: aku tetap datang kepada-Nya dalam doa.

Walaupun tidak selama dulu.

Walaupun tidak selalu dengan hati yang penuh semangat.

Walaupun ada hari-hari di mana aku berdoa sambil menangis dan bingung harus berkata apa.

Dan sekarang aku sadar…

mungkin itulah yang Tuhan pakai untuk menjaga hatiku agar tidak benar-benar jatuh.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41)

Sampai suatu malam, calon suamiku mendoakanku. Entah kenapa malam itu terasa berbeda.

Setelah itu aku lanjut saat teduh sendiri di kamar, dan di situ… aku kembali merasakan hadirat Tuhan.

Sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Aku hanya merasa seperti dipeluk.

Seperti Tuhan berkata, “Aku tidak pernah meninggalkanmu, Aku hanya menunggumu kembali.”

Dan malam itu aku teringat kisah anak yang hilang.

Bukan karena aku merasa meninggalkan Tuhan sepenuhnya, tetapi karena aku sadar… sering kali dalam kecewa dan pergumulan, hati kita perlahan menjauh. Namun seperti bapa dalam kisah itu, Tuhan tidak datang dengan kemarahan ketika kita kembali. Dia datang dengan pelukan.

“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” (Lukas 15:20)

Di malam itu aku sadar, selama ini Tuhan tidak pergi ke mana-mana. Aku saja yang terlalu sibuk tenggelam dalam kecewa dan pertanyaanku sendiri.

Dan walaupun aku datang kepada-Nya dengan iman yang naik turun, Dia tetap menerima aku dengan kasih yang sama.

Kalau hari ini kamu sedang lelah…

Hidupmu terasa berat…

Dan doamu mulai terasa hambar…

Jangan berhenti datang kepada Tuhan.

Ceritakan semuanya.

Bahkan kekecewaanmu.

Bahkan pertanyaanmu.

Karena Tuhan tidak menunggu kita datang dalam keadaan sempurna. Dia hanya menunggu kita kembali pulang.

Doa Penutup

Tuhan Yesus terimakasih karena penyertaan-Mu dalam hidupku. Panjang sabar-Mu akan aku, kasih-Mu selalu menyelimuti ku. Terimakasih karena Engkau selalu menungguku kembali dan tak pernah Engkau meninggalkanku. Terimakasih selalu berjalan bersamaku di setiap musim hidupku. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin

Bagikan:WhatsApp

Terima devotion via email

Dapatkan renungan harian langsung di inbox kamu setiap paginya.

Daftar Sekarang