Ruang Sela Logo
Ruang SelaDaily Devotion
iman • godaan2 Juni 20262 menit baca 36

Siapakah yang Duduk di Takhta Hatiku?

Siapakah yang Duduk di Takhta Hatiku?

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya…"

Matius 16 : 24

Siapakah yang Duduk di Takhta Hatiku?

Hari-hari ini dunia sering berkata:

“Cintai dirimu.”

“Pilih dirimu.”

“Utamakan kebahagiaanmu.”

Sekilas terdengar baik.

Tetapi pelan-pelan aku mulai bertanya:

Apakah aku sedang mengasihi diriku dengan benar?

Ataukah aku sedang menjadikan diriku sebagai pusat hidupku?

Sebab ada perbedaan besar antara merawat hidup yang Tuhan percayakan, dan menaruh diri sendiri di tempat yang seharusnya milik Tuhan.

Paulus pernah menulis:

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri…”

(2 Timotius 3:2)

Menariknya, ketika Paulus menggambarkan keadaan manusia yang jauh dari Tuhan, hal pertama yang disebut adalah manusia yang mencintai dirinya sendiri.

Bukan karena merawat diri itu salah.

Tetapi karena hati manusia mudah sekali bergeser.

Dari mengasihi Tuhan,

menjadi mengasihi diri sendiri.

Dari mencari kehendak Tuhan,

menjadi mengejar kepuasan diri sendiri.

Dari bertanya, “Apa yang menyenangkan hati Tuhan?”

menjadi, “Apa yang membuatku puas?”

Yakobus juga menulis:

“Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”

(Yakobus 1:14)

Ternyata banyak kejatuhan tidak dimulai dari luar.

Tetapi dari keinginan yang ada di dalam diri sendiri.

Keinginan untuk dipuaskan.

Keinginan untuk diutamakan.

Keinginan untuk mengikuti apa yang terasa menyenangkan.

Dan ketika keinginan itu dibiarkan memimpin, tanpa sadar diri sendiri mulai duduk di takhta hati.

Aku menjadi pusatnya.

Kepuasanku menjadi tujuannya.

Perasaanku menjadi ukurannya.

Keinginanku menjadi arahnya.

Padahal Yesus berkata:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya…”

(Matius 16:24)

Ini sangat berbeda dengan suara dunia.

Dunia berkata, “Utamakan dirimu.”

Yesus berkata, “Sangkal dirimu dan ikutlah Aku.”

Dunia berkata, “Ikuti hatimu.”

Yesus memanggil kita untuk menyerahkan hati kita kepada-Nya.

Karena mengikut Tuhan bukan berarti menambahkan Tuhan ke dalam hidup yang masih berpusat pada diri sendiri.

Mengikut Tuhan berarti memindahkan pusat hidup dari “aku” kepada Kristus.

Mungkin karena itu Yakobus berkata:

“Karena itu tunduklah kepada Allah…”

(Yakobus 4:7)

Tunduk kepada Allah berarti aku tidak lagi menjadi yang tertinggi dalam hidupku.

Bukan keinginanku.

Bukan perasaanku.

Bukan kepuasanku.

Tetapi Tuhan.

Tunduk kepada Allah berarti belajar berkata:

“Tuhan, sekalipun aku menginginkannya, aku memilih Engkau.”

“Tuhan, sekalipun ini menyenangkan bagiku, aku mau mencari apa yang menyenangkan hati-Mu.”

“Tuhan, turunkan aku dari takhta hatiku, dan duduklah Engkau di sana.”

Hari ini mungkin pertanyaannya bukan hanya:

“Dosa apa yang sedang aku lawan?”

Tetapi:

“Siapa yang sedang duduk di takhta hatiku?”

Karena selama diriku masih menjadi nomor satu, aku akan terus mencari apa yang memuaskan diriku.

Tetapi ketika Tuhan menjadi nomor satu, aku mulai belajar mencari apa yang menyenangkan hati-Nya.

Dan mungkin itulah awal dari penyangkalan diri yang sejati.

Bukan membenci diri sendiri.

Tetapi berhenti menjadikan diri sendiri sebagai tuhan atas hidupku.

Doa Penutup

Tuhan, sering kali aku lebih mengikuti keinginanku daripada kehendak-Mu. Ampunilah aku. Ajarlah aku untuk tunduk kepada-Mu dan menempatkan Engkau sebagai nomor satu dalam hidupku. Biarlah bukan keinginanku, bukan kepuasanku, dan bukan diriku, tetapi Engkau yang duduk di takhta hatiku. Dalam nama Yesus, Amin🙏🏻

Bagikan:WhatsApp

Terima devotion via email

Dapatkan renungan harian langsung di inbox kamu setiap paginya.

Daftar Sekarang