Resilience in Crisis : Ketika Krisis Mengungkapkan Fondasi Iman Kita

"Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami… tetapi seandainya tidak… kami tidak akan memuja dewa tuanku"
Daniel 3 : 17-18
Renungan ini terinspirasi dari khotbah Ps. Jose Carol “More than provision”, dengan refleksi dan pengembangan tambahan dari penulis berdasarkan beberapa bagian Firman Tuhan.
Krisis tidak hanya mengguncang kehidupan kita.
Sering kali, krisis mengungkapkan fondasi kehidupan kita.
Ketika semuanya berjalan baik, kita mungkin merasa iman kita kuat. Tetapi ketika sesuatu yang kita andalkan mulai terguncang seperti keuangan, pekerjaan, hubungan, kesehatan, kesuksesan, atau penghormatan dari orang lain. Barulah terlihat,
Sebenarnya selama ini hatiku bersandar kepada siapa?
“Krisis Sang Janda”
Dalam 2 Raja-raja 4:1–7, kita bertemu dengan seorang janda yang sedang menghadapi krisis besar.
Suaminya telah meninggal. Ia memiliki utang yang tidak mampu dibayar. Dan sekarang penagih utang datang untuk mengambil kedua anaknya sebagai budak. Ia bukan sekadar sedang mengalami masa yang tidak nyaman.
Ia sedang berada dalam keadaan yang seolah tidak memiliki jalan keluar.
Namun di tengah krisis tersebut, ia datang kepada Elisa dan menyampaikan pergumulannya. Elisa bertanya kepadanya,
“Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” ( 2 Raja-raja 4:2 )
Janda itu menjawab bahwa ia tidak mempunyai apa-apa selain sedikit minyak.
Menariknya, Tuhan memulai pertolongan-Nya bukan dari apa yang tidak dimiliki janda itu, tetapi dari apa yang masih ada di tangannya.
Elisa menyuruhnya meminjam banyak bejana kosong dari tetangganya. Kemudian ia diminta masuk ke rumah, menutup pintu, dan mulai menuangkan minyak ke dalam bejana-bejana tersebut.
Janda itu taat.
Dan minyak itu terus mengalir sampai seluruh bejana yang tersedia menjadi penuh.
“Krisis Mengubah Perspektif Kita”
Ketika berada dalam krisis, mata kita mudah tertuju kepada apa yang hilang.
Apa yang tidak kita miliki.
Apa yang belum Tuhan berikan.
Apa yang tidak berjalan sesuai rencana.
Janda itu melihat dirinya hampir tidak mempunyai apa-apa. Tetapi Tuhan melihat bahwa masih ada sesuatu yang dapat digunakan.
Sedikit minyak.
Kadang Tuhan tidak langsung mengubah seluruh keadaan kita. Dia terlebih dahulu mengubah cara kita melihat keadaan tersebut.
Krisis dapat membuat kita menyadari bahwa selama ini ada banyak hal yang tanpa sadar telah menjadi sumber rasa aman kita.
Materi.
Kesuksesan.
Seseorang yang kita kasihi.
Posisi.
Penghormatan.
Rencana masa depan.
Semua itu tidak selalu salah untuk dimiliki.
Tetapi krisis dapat mengungkapkan ketika sesuatu yang baik telah mengambil tempat yang seharusnya hanya ditempati oleh Tuhan.
“Apakah Fondasi Kita Berkat Tuhan atau Tuhan Sendiri?”
Ada perbedaan besar antara menikmati berkat Tuhan dan menjadikan berkat Tuhan sebagai fondasi hidup kita.
Selama doa dijawab, pintu terbuka, keadaan baik, dan kehidupan berjalan sesuai harapan, mudah bagi kita berkata,
“Tuhan baik.”
Tetapi bagaimana ketika semuanya mulai terguncang?
Di situlah muncul pertanyaan yang jauh lebih dalam, apakah selama ini aku mengasihi Tuhan karena pribadi-Nya, atau karena kehidupan yang kuharapkan akan Dia berikan kepadaku?
Krisis sering kali memperlihatkan jawabannya.
Karena iman yang berakar pada berkat akan mudah terguncang ketika berkat itu hilang.
Tetapi iman yang berakar pada Pribadi Tuhan masih memiliki tempat untuk berpijak ketika keadaan berubah.
Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah. Namun Dia berjanji menyertai kita dan memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk menjalani setiap musim.
‘Ketika Iman Sampai pada “Even If” ‘
Kisah janda dalam 2 Raja-raja 4 berakhir dengan mukjizat.
Minyaknya berlipat ganda.
Utangnya dapat dibayar.
Ia dan anak-anaknya dapat melanjutkan hidup dari sisanya.
Tetapi bagaimana jika pertolongan Tuhan belum datang dalam bentuk yang kita harapkan?
Di sinilah kita dapat melihat gambaran iman lain dalam Daniel 3.
Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperintahkan menyembah patung Nebukadnezar atau dilemparkan ke dalam perapian, mereka berkata,
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami… tetapi seandainya tidak… kami tidak akan memuja dewa tuanku.” (Daniel 3:17–18)
Ada dua sisi iman yang sangat indah di sini.
“Our God is able.”
Mereka percaya Tuhan sanggup menolong.
Tetapi kemudian
“Even if He does not…”
Mereka tidak menjadikan pertolongan Tuhan sebagai syarat untuk tetap percaya kepada-Nya.
Inilah iman yang perlahan menjadi dewasa.
Bukan hanya, “Aku percaya kepada Tuhan karena aku yakin Dia akan mengubah keadaanku.”
Tetapi, “Aku percaya kepada Tuhan karena aku mengenal siapa Dia.”
Sekalipun Keadaanku Tidak Berubah
Habakuk menggambarkan iman yang serupa,
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah… namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” (Habakuk 3:17–18)
Perhatikan satu kata,
Sekalipun.
Habakuk tidak menyangkal kenyataan.
Ia tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Tetapi ia menolak membiarkan keadaan menentukan siapa Tuhan baginya.
Mungkin inilah salah satu bentuk resilience terbesar dalam kehidupan orang percaya:
Even if keadaan ini belum berubah, Tuhan tetap baik.
Even if jawaban yang kutunggu belum datang, Tuhan tetap setia.
Even if hidupku tidak berjalan seperti yang kurencanakan, Tuhan tetap memeliharaku.
Even if aku belum memahami apa yang sedang Dia kerjakan, aku tetap memilih percaya kepada-Nya.
“Resilience Bukan Berarti Tidak Pernah Terguncang”
Resilience dalam iman bukan berarti kita tidak pernah menangis.
Bukan berarti kita tidak pernah kecewa.
Bukan berarti kita tidak pernah takut atau bertanya:
“Berapa lama lagi, Tuhan?”
Alkitab sendiri dipenuhi orang-orang beriman yang pernah meratap dan mempertanyakan keadaan mereka.
Ketahanan iman bukan berarti kita tidak pernah terguncang.
Ketahanan iman terlihat ketika setelah terguncang, hati kita tetap kembali kepada Tuhan.
Krisis mungkin mengubah keadaan kita.
Krisis mungkin mengubah rencana kita.
Bahkan krisis mungkin mengambil sesuatu yang selama ini kita anggap sangat penting.
Tetapi jika Tuhan adalah fondasi kita, kita masih memiliki tempat untuk berdiri.
Mungkin pada akhirnya Tuhan menggunakan krisis bukan hanya untuk mengubah keadaan kita.
Dia ingin mengubah perspektif kita, lalu mengubah hati kita.
Dari:
“God, change my circumstances.”
menjadi:
“God, change my heart in these circumstances.”
Sampai akhirnya kita mampu berkata:
“Even if nothing changes yet, You are still God.
You are still good.
You are still faithful.
And You are still enough.”
“Renungan Hari Ini”
Apa yang krisis dalam hidupmu sedang ungkapkan tentang hatimu?
Ketika sesuatu yang kamu andalkan mulai terguncang, apakah imanmu ikut terguncang?
Apakah selama ini rasa amanmu berada pada berkat Tuhan, atau pada Pribadi Tuhan sendiri?
Dan jika keadaanmu belum berubah hari ini, apakah Tuhan tetap cukup bagimu?
Doa Penutup
Tuhan, ajarku untuk menaruh seluruh rasa amanku hanya pada-Mu. Ketika keadaan tidak berjalan seperti yang kuharapkan, teguhkanlah imanku. Ajarku untuk tetap percaya bahwa Engkau baik, Engkau setia, dan Engkau selalu memelihara hidupku. Biarlah aku mengasihi-Mu, bukan hanya karena berkat-Mu, tetapi karena Pribadi-Mu. Dalam nama Yesus, Amin🙏🏻
