PENGAMPUNAN YANG BERHENTI DI KITA

"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."
Kolose 3 : 13
Mengampuni seseorang memang tidak selalu mudah. Ada kesalahan yang mungkin bisa kita lupakan dengan cepat. Tetapi ada juga luka yang begitu dalam, sampai rasanya kita punya alasan
untuk terus mengingatnya.
Petrus pernah bertanya kepada Yesus,
“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
Yesus menjawab,
“Bukan sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18:21–22)
Tentu Yesus bukan sedang mengajarkan kita
untuk menghitung sampai kesalahan ke-490.
Dia sedang mengajarkan hati yang terus bersedia mengampuni. Tetapi mungkin kita pernah berpikir,
Mengapa aku harus mengampuni seseorang
yang memang sudah bersalah kepadaku?
Mengapa aku harus melepaskan kesalahan
yang benar-benar dia lakukan?
Mungkin sebelum menghitung
berapa kali orang lain bersalah kepada kita, kita perlu mengingat berapa kali kita sendiri sudah bersalah kepada Tuhan.
Berapa kali kita tahu sesuatu itu salah,
tetapi tetap melakukannya?
Berapa kali kita berjanji akan berubah,
tetapi kemudian jatuh lagi?
Berapa kali kita datang kepada Tuhan
membawa kesalahan yang sama
dan kembali meminta pengampunan?
Namun Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk kembali.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita…” (1 Yohanes 1:9)
Kita hidup bukan sebagai orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita hidup sebagai orang
yang berkali-kali menerima belas kasih.
Setelah menjawab Petrus,
Yesus menceritakan tentang seorang hamba
yang memiliki utang sangat besar kepada rajanya.
Ia tidak sanggup membayarnya.
Ketika ia memohon belas kasihan, sang raja membebaskan dan menghapuskan utangnya.
Tetapi setelah keluar, hamba itu bertemu dengan seseorang yang berutang jauh lebih sedikit kepadanya. Kali ini, ia tidak mau mengampuni.
(Matius 18:23–35)
Ia menerima belas kasih, tetapi belas kasih itu berhenti padanya.
Bukankah kita pun bisa melakukan hal yang sama?
Kita datang kepada Tuhan dan berharap Dia mengampuni kesalahan kita. Tetapi ketika seseorang bersalah kepada kita, kita memegang erat kesalahannya.
Kita mengingatnya.
Kita menyimpannya.
Kita merasa orang itu tidak layak mendapatkan pengampunan.
Padahal bukankah kita sendiri juga hidup karena pengampunan?
Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa perbuatannya benar.
Bukan berarti luka yang kita rasakan tidak nyata. Dan bukan berarti kita harus membiarkan
seseorang terus menyakiti kita.
Tetapi sebagai orang yang sudah menerima begitu banyak belas kasih, mungkin kita perlu bertanya:
Jika Tuhan sudah begitu banyak mengampuniku,
atas dasar apa aku terus memegang
kesalahan orang lain?
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain,
dan ampunilah seorang akan yang lain
apabila yang seorang menaruh dendam
terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)
Mungkin hari ini, ada seseorang yang masih sulit kita ampuni. Tetapi jangan sampai kita begitu sibuk mengingat berapa besar kesalahan seseorang kepada kita, hingga lupa berapa banyak kesalahan kita sendiri yang sudah Tuhan ampuni.
Kita mengampuni bukan karena kesalahan itu tidak berarti.
Kita mengampuni
karena kita sendiri tahu
bagaimana rasanya menerima pengampunan
yang sebenarnya tidak layak kita terima dari Dia
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih karena Engkau telah begitu banyak mengampuniku. Ajarku untuk tidak hanya menerima belas kasih-Mu, tetapi juga memberikannya kepada orang lain. Lembutkan hatiku ketika mengampuni terasa sulit, dan mampukan aku melepaskan kesalahan yang masih kupegang. Kiranya pengampunan yang kuterima dari-Mu tidak berhenti di aku. Dalam nama Yesus, Amin🙏🏻
