Mengapa Kita Masih Ragu, Padahal Tuhan Sudah Berkali-kali Membuktikan Kesetiaan-Nya?

"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"
Ratapan 3 : 23
Pernahkah kamu bertanya kepada dirimu sendiri
“Mengapa aku masih takut?”
“Mengapa aku masih khawatir?”
“Mengapa aku masih ragu Tuhan akan menolongku?”
Padahal jika melihat ke belakang, Tuhan sudah berkali-kali menunjukkan kesetiaan-Nya.
Menolong saat keadaan terasa buntu.
Menguatkan saat hati hampir menyerah.
Membukakan jalan ketika kita tidak melihat jalan keluar.
Namun ketika musim sulit kembali datang, sering kali kita kembali dipenuhi ketakutan. Kita mulai membuat berbagai skenario di dalam kepala
“Bagaimana kalau gagal?”
“Bagaimana kalau semuanya berakhir buruk?”
“Bagaimana kalau Tuhan tidak menolongku kali ini?”
Dan tanpa sadar, kita lebih banyak memandang masalah yang ada di depan mata daripada mengingat kesetiaan Tuhan yang sudah kita alami.
Hal seperti ini ternyata bukan hanya terjadi pada kita…
Yohanes Pembaptis pernah meragukan Yesus ketika ia berada di dalam penjara.
Padahal dialah yang pernah melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus dan bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yohanes 1:32-34).
Tomas juga pernah meragukan kebangkitan Yesus.
Padahal ia telah menyaksikan begitu banyak mujizat selama mengikuti-Nya.
Bahkan bangsa Israel yang melihat laut terbelah, manna turun dari langit, dan penyertaan Tuhan setiap hari pun masih berulang kali bersungut-sungut dan meragukan Tuhan.
Tentang mereka, pemazmur menulis:
“Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya.”
(Mazmur 106:13)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa sering kali masalah terbesar kita bukan kurangnya bukti tentang Tuhan. Masalah kita adalah hati yang mudah lupa.
Kita lupa bagaimana Tuhan memelihara kita.
Kita lupa bagaimana Tuhan menjawab doa-doa kita.
Kita lupa bagaimana Tuhan menolong kita melewati musim-musim yang sulit sebelumnya.
Karena itu ketika ketakutan datang, jangan hanya melihat masalah yang ada di depanmu. Lihat juga jejak kesetiaan Tuhan yang ada di belakangmu.
Ingatlah kembali doa-doa yang pernah dijawab.
Ingatlah kembali pertolongan yang pernah Tuhan berikan.
Ingatlah kembali bagaimana Tuhan tidak pernah meninggalkanmu sampai hari ini.
Nabi Yeremia menulis di tengah masa yang sangat sulit,
“Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
( Ratapan 3:21-23 )
Perhatikan bahwa Yeremia tidak berkata keadaannya baik-baik saja. Ia memilih untuk mengingat siapa Tuhan itu. Dan dari situlah harapan muncul. Iman bukan berarti tidak pernah ragu. Iman adalah tetap mempercayai Tuhan yang setia, meskipun hati kita sedang bergumul.
Karena Tuhan yang menolongmu dahulu adalah Tuhan yang sama hari ini. Dan Tuhan yang setia kemarin tetap setia sampai selamanya.
Doa Penutup
Tuhan, ampuni aku karena sering kali aku lebih fokus pada masalah daripada mengingat kesetiaan-Mu. Tolong aku untuk mengingat kembali semua kebaikan-Mu dan tetap percaya kepada-Mu di tengah musim yang sulit. Amin🙏🏻
