Ruang Sela Logo
Ruang SelaDaily Devotion
hikmat • pengharapan30 Agustus 20265 menit baca 68

KETIKA TUHAN MENGERJAKAN KEMAUAN DI DALAM KITA

KETIKA TUHAN MENGERJAKAN KEMAUAN DI DALAM KITA

"Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya"

Filipi 2 : 13

“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
(Filipi 2:13)

Pernahkah sebuah ide tiba-tiba muncul dalam pikiranmu?

Sebuah pekerjaan yang ingin kamu mulai.

Sebuah bisnis yang ingin kamu bangun.

Sebuah karya yang ingin kamu buat.

Atau sebuah pelayanan yang entah mengapa terus tinggal dalam pikiranmu.

Sering kali kita menganggap semuanya hanya sebagai pikiran biasa.

Namun Filipi 2:13 membuatku melihat sesuatu yang menarik bahwa, Tuhan bukan hanya dapat bekerja melalui apa yang kita kerjakan.
Dia juga dapat bekerja di dalam kemauan kita.

Artinya, sebelum sesuatu menjadi pekerjaan yang terlihat, Tuhan dapat terlebih dahulu menggerakkan hati dan pikiran kita kepada sesuatu yang berkenan kepada-Nya.

Mungkin melalui sebuah ide.

Sebuah dorongan.

Sebuah kemauan untuk memulai.

Dan bisa jadi, apa yang muncul dalam pikiran kita bukan sekadar sebuah kebetulan.

  • SEBELUM MENJADI PEKERJAAN, ADA KEMAUAN

Filipi 2:13 menyebut dua hal, kemauan dan pekerjaan.

Ada sesuatu yang Tuhan kerjakan di dalam kita terlebih dahulu, lalu sesuatu itu mulai kita kerjakan dalam kehidupan nyata.

Namun ayat ini juga mengatakan, “menurut kerelaan-Nya.”

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Ayat ini bukan berarti setiap ide atau kemauan yang muncul otomatis berasal dari Tuhan. Karena kita adalah manusia dengan begitu banyak keinginan.

Ada yang memang berasal dari Tuhan.

Ada yang berasal dari keinginan kita sendiri.

Ada pula yang lahir dari ego, ambisi, iri hati, atau kedagingan.

Karena itu pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang aku inginkan?”

Tetapi, “Apakah ini benar-benar sesuatu yang Tuhan kehendaki?”

  • FIRMAN TUHAN MENGAJAR KITA UNTUK MEMBEDAKANNYA

Roma 12:2 berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Firman Tuhan tidak mengajar kita untuk mengikuti setiap keinginan hati begitu saja.

Kita justru diajar untuk membedakan kehendak Allah. Artinya, sebuah ide tidak perlu langsung kita abaikan. Tetapi juga tidak perlu langsung kita beri label, “Ini pasti dari Tuhan.”

Kita perlu mengujinya.

1. UJI DENGAN FIRMAN

Pertama, tanyakan “Apakah ide ini, atau cara untuk mencapainya, bertentangan dengan Firman Tuhan?”

Tuhan tidak akan mengarahkan kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah Dia firmankan.

Sebuah tujuan mungkin terlihat baik. Tetapi jika untuk mencapainya kita harus menipu, memanipulasi, merugikan orang lain, atau berkompromi dengan dosa, kita sudah memiliki jawabannya.

Kehendak Tuhan tidak akan bertentangan dengan karakter Tuhan.

2. UJI MOTIVASI HATI

Selanjutnya tanyakan kepada dirimu

“Mengapa aku menginginkan ini?”

Apakah aku ingin menggunakan apa yang Tuhan percayakan kepadaku?

Atau sebenarnya karena iri melihat keberhasilan orang lain?

Apakah aku ingin dipandang berhasil?

Apakah aku sedang berusaha membuktikan sesuatu kepada seseorang?

Apakah aku hanya mengejar pengakuan?

Keinginan yang terlihat baik pun dapat memiliki motivasi yang salah.

Karena itu jangan hanya memeriksa apa yang ingin kita capai. Periksa juga apa yang sedang terjadi di dalam hati kita.

3. UJI HIKMATNYA

Yakobus 3:17 berkata, “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik…”

Hikmat dari Tuhan memiliki karakter.

Karena itu bukan hanya tujuannya yang perlu kita periksa.

Tetapi juga cara kita mencapainya.

Apakah dalam prosesnya kita tetap dapat berjalan dalam kejujuran?

Apakah kita masih memperlakukan orang lain dengan kasih?

Apakah kita harus mengorbankan nilai-nilai yang kita percaya demi mencapai tujuan tersebut?

Terkadang tujuan yang terlihat baik dapat ditempuh melalui cara yang salah.

Dan Tuhan bukan hanya peduli pada hasil akhirnya.

Dia juga peduli pada bagaimana kita sampai ke sana.

4. BAWA DALAM DOA

Sering kali doa kita berbunyi, “Tuhan, buat ini berhasil.”

Namun mencari kehendak Tuhan membutuhkan keberanian untuk berdoa lebih jauh

“Tuhan, jika ini bukan kehendak-Mu, ubah arahku.”

Doa seperti ini tidak mudah. Karena artinya kita memberikan Tuhan hak untuk menjawab dengan cara yang berbeda dari apa yang kita inginkan.

Kita mungkin meminta satu jalan. Tetapi Tuhan dapat mengarahkan ke jalan lain.

Kita mungkin membayangkan satu bentuk keberhasilan. Tetapi Tuhan dapat memiliki tujuan yang berbeda.

Mencari kehendak Tuhan bukan berarti meminta Tuhan menyetujui semua rencana kita.

Mencari kehendak Tuhan berarti bersedia berkata, “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu.”

5. PERHATIKAN BUAHNYA

Selama menjalani sesuatu, perhatikan apa yang sedang dihasilkannya di dalam dirimu.

Apakah perjalanan ini membuatmu semakin dekat kepada Tuhan?

Semakin rendah hati?

Semakin belajar mengasihi?

Semakin jujur?

Semakin bergantung kepada-Nya?

Atau justru semakin dikuasai ego?

Iri hati?

Ambisi?

Obsesi?

Keinginan untuk membuktikan diri?

Terkadang kita terlalu sibuk memperhatikan apakah sesuatu berhasil, sampai lupa memperhatikan siapa kita sedang menjadi dalam prosesnya.

Padahal Tuhan tidak hanya sedang membawa kita menuju suatu tempat. Dia juga sedang membentuk karakter kita selama perjalanan itu.

  • LALU KERJAKAN BAGIANMU

Jika setelah diuji dengan Firman, diperiksa motivasinya, dibawa dalam doa, dan direnungkan buahnya, kita percaya Tuhan sedang mengarahkan kita.

Kerjakanlah dengan setia.

Jangan hanya menunggu.

Belajar.

Mencoba.

Bekerja.

Bertanggung jawab.

Percaya bahwa Tuhan bekerja bukan berarti kita berhenti berusaha.

Justru karena kita percaya Tuhan bekerja di dalam kita, kita mengerjakan bagian kita dengan sungguh-sungguh.

Tuhan memberikan kemauan.

Tetapi kita tetap perlu melangkah.

Tuhan memberikan hikmat.

Tetapi kita tetap perlu belajar.

Tuhan membuka kesempatan.

Tetapi kita tetap perlu bertanggung jawab terhadap apa yang dipercayakan kepada kita.

  • DAN JIKA SUATU HARI BERHASIL

Ingatlah dari mana semuanya bermula.

Mungkin awalnya hanya sebuah ide.

Kemudian Tuhan memberikan hikmat.

Kemampuan.

Kesempatan.

Orang-orang yang membantu.

Bahkan kekuatan untuk terus bertahan ketika kita hampir menyerah.

Kita memang mengerjakannya.

Kita memang mengambil keputusan.

Kita memang bekerja keras.

Tetapi jangan lupa:

Tuhanlah yang memampukan kita.

Keberhasilan seharusnya tidak membuat kita semakin membesarkan diri.

Justru semakin menyadarkan kita bahwa ada begitu banyak hal dalam perjalanan itu yang tidak dapat kita hasilkan sendiri.

  • DARI KEMAUAN HINGGA PEKERJAAN

Apa yang Tuhan kerjakan di dalam kita tidak berhenti pada sebuah kemauan. Dia juga memampukan kita untuk mengerjakannya.

Karena itu ketika sebuah ide muncul dalam pikiranmu, jangan langsung mengabaikannya. Tetapi jangan pula langsung menganggapnya pasti berasal dari Tuhan.

Ujilah dengan Firman.
Periksa motivasi hati.
Carilah hikmat dari atas.
Bawalah dalam doa.
Perhatikan buahnya.

Dan ketika setelah semuanya itu kamu percaya Tuhan sedang mengarahkanmu

kerjakanlah dengan setia.

Lalu jika suatu hari semuanya berbuah, jangan lupa kepada Dia yang sejak awal bekerja di dalam kita.

“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
Filipi 2:13

Mungkin kita yang mengerjakannya.

Tetapi sejak awal, Tuhanlah yang bekerja di dalam kita.

Doa Penutup

Tuhan, ajar aku membedakan kehendak-Mu dari keinginanku sendiri. Berikan aku hikmat untuk menguji, keberanian untuk melangkah, dan kerendahan hati untuk mengingat bahwa semua kemampuan berasal dari-Mu. Dalam nama Yesus, Amin🙏🏻

Bagikan:WhatsApp

Terima devotion via email

Dapatkan renungan harian langsung di inbox kamu setiap paginya.

Daftar Sekarang