Ketika Tuhan Memanggilku Kembali (Kesaksian Penulis)

"Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku."
Yohanes 6 : 44
Ini adalah cerita tentang penulis yang pernah begitu membara dalam iman, tetapi juga pernah jatuh dan menjadi tawar. Tentang bagaimana, dalam kelemahannya, belas kasih Tuhan berkali-kali menariknya kembali dan memberinya kekuatan yang baru. “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali…”
(Amsal 24:16)
Aku masih ingat ketika pertama kali merasa Tuhan memanggilku, disaat aku dipanggil untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus.
Ada kerinduan yang begitu besar untuk mengenal-Nya. Hampir setiap kali berdoa, aku menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena begitu terharu dan bersyukur karena boleh mengenal-Nya.
Saat itu, mencari Tuhan tidak terasa seperti kewajiban.
Aku ingin berdoa.
Aku ingin membaca Firman.
Aku ingin mengenal-Nya lebih dalam.
Lalu Kehidupan Datang
Namun perjalanan bersama Tuhan tidak selalu terasa seperti masa-masa awal itu.
Masalah kehidupan yang dihadapi kadang membuat hati lelah. Ada kekecewaan dan kesedihan. Ada doa yang belum terjawab.
Perlahan, tanpa kusadari, hatiku mulai tawar. Aku tidak meninggalkan Tuhan.
Aku masih berdoa.
Masih membaca Firman.
Masih berusaha mencari-Nya.
Tetapi kalau aku jujur, rasanya sudah berbeda. Yang dahulu terasa seperti kerinduan, perlahan terasa seperti rutinitas.
Aku tetap melakukannya karena aku tahu, ini yang seharusnya kulakukan.
Lalu Sesuatu Dalam Diri Berubah
Bukan karena masalahku akhirnya selesai.
Bukan karena semua doaku akhirnya dijawab.
Bahkan beberapa keadaan yang membuatku kecewa masih sama.
Tetapi perlahan aku menyadari,
Tuhan sedang mengubah sesuatu di dalam diriku.
Dia mengubah cara pandangku terhadap keadaan yang sedang kujalani.
Hal-hal yang sebelumnya hanya kulihat sebagai alasan untuk kecewa, mulai kulihat dengan perspektif yang berbeda.
Keadaannya belum tentu berubah.
Tetapi hatiku berubah.
Aku mulai melihat Tuhan lagi di tengah semuanya.
Aku Seperti Dipanggil Lagi
Perlahan, Firman terasa hidup lagi.
Hatiku mulai lapar lagi.
Ada kerinduan untuk mencari Tuhan yang tidak terasa seperti sesuatu yang harus kupaksakan.
Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi lebih mudah.
Bukan karena Tuhan akhirnya memberikan semua yang kuminta.
Tetapi karena Tuhan sendiri mengarahkan hatiku kembali kepada-Nya.
Dan aku mengenali perasaan itu.
Seperti ketika pertama kali Dia memanggilku.
Aku seperti sedang dipanggil kembali.
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.”
(Yohanes 6:44)
Semuanya Karena Tuhan
Semakin melihat perjalanan ini, semakin aku sadar, semua ini bukan karena aku cukup disiplin menjalankan rutinitas rohani—berdoa, membaca Firman, dan beribadah.
Bukan karena aku lebih kuat.
Bukan karena aku berhasil membuat hatiku kembali menyala.
Tuhan yang melakukannya.
Tuhan yang mengubah hatiku.
Tuhan yang mengubah perspektifku.
Tuhan yang menghidupkan kembali kerinduanku.
Tuhan yang mengarahkan pandanganku kembali kepada-Nya.
“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”
(Filipi 2:13)
Bahkan kemauan untuk kembali kepada-Nya pun dapat Dia kerjakan di dalam hati kita.
Inilah yang disebut Anugerah
ketika aku menjauh, Tuhan tidak berhenti mengasihiku.
Dalam belas kasih-Nya,
Dia tetap mencari, tetap memanggil, dan menarik hatiku kembali kepada-Nya.
Bukan karena aku pantas, bukan karena aku sudah cukup baik, tetapi karena kasih-Nya tidak bergantung pada seberapa baik aku mampu mengasihi-Nya kembali.
Anugerah Tidak Berarti Tanpa Ketaatan
Bukan berarti setelah itu semuanya menjadi mudah.
Aku tetap harus belajar taat.
Tetap menjaga hati.
Tetap bertekun.
Tetap mencari Tuhan bahkan ketika perasaanku berubah.
Tetapi sekarang aku tahu:
aku tidak berjalan dengan kekuatanku sendiri.
Ada Tuhan yang terus bekerja di dalamku.
Akhir Kata
Sampai hari ini, tidak semua doaku sudah terjawab.
Tidak semua keadaan sudah berubah.
Tetapi Tuhan mengubah perspektifku.
Tuhan mengubah hatiku.
Dan Dia membuatku merindukan-Nya lagi.
Jadi mungkin kesaksianku bukan tentang seberapa kuat aku mempertahankan iman.
Tetapi tentang betapa setianya Tuhan.
Dia pernah memanggilku.
Dan ketika hatiku mulai tawar,
Dia memanggilku kembali.
Itulah anugerah.
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih untuk anugerah-Mu. Ketika hatiku tawar dan mulai menjauh, Engkau tetap mengasihiku dan memanggilku kembali. Ubahlah hatiku dan cara pandangku, agar dalam keadaan apa pun aku tetap melihat-Mu dan merindukan-Mu. Berikan aku kekuatan untuk terus taat dan bertekun, bukan dengan kekuatanku sendiri, tetapi karena Engkau yang bekerja di dalamku. Jangan biarkan hatiku jauh dari-Mu. Teruslah bentuk aku semakin serupa dengan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin🙏🏻
