Jangan Merasa Tertinggal, Tuhan Tahu Waktu yang Tepat

"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Pengkotbah 3 : 11
Pernahkah kamu merasa tertinggal dari orang lain?
Teman sebaya sudah lebih dulu menikah. Saudara sudah punya karier yang terlihat mapan. Orang lain sudah punya rumah, anak, bisnis yang berkembang, atau pencapaian yang sering dijadikan perbandingan oleh keluarga.
Sementara kamu masih merasa berjalan di tempat.
Kadang yang membuat hati semakin berat bukan hanya karena hidup kita dibandingkan dengan orang lain. Sering kali kita sendiri yang terlalu keras pada diri sendiri. Kita melihat pencapaian orang lain, lalu mulai mempertanyakan hidup kita sendiri.
“Kenapa aku belum sampai di sana?”
“Kenapa hidupku terasa lebih lambat?”
“Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”
Tanpa sadar, kita mulai mengukur nilai diri dari pencapaian yang belum kita miliki.
Kita melihat hasil akhir perjalanan orang lain, tetapi lupa bahwa Tuhan sedang menulis cerita yang berbeda untuk setiap orang.
Seolah-olah hidup ini adalah perlombaan, dan kita sedang kalah jauh.
Tetapi firman Tuhan menunjukkan bahwa waktu setiap orang tidak selalu sama.
Salah satu kisah yang menguatkan adalah kisah Abraham.
Sebelum Tuhan memanggil Abraham keluar dari negerinya, Alkitab tidak banyak menceritakan 75 tahun pertama hidupnya. Kita hanya tahu bahwa Abraham dan Sara belum memiliki anak.
“Adapun Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak.”
(Kejadian 11:30)
Dalam budaya saat itu, memiliki keturunan adalah sesuatu yang sangat penting. Maka bisa dibayangkan, penantian Abraham dan Sara bukanlah hal yang ringan.
Lalu di usia 75 tahun, Tuhan memanggil Abraham.
“Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”
(Kejadian 12:1)
Tuhan memberi janji yang besar kepada Abraham. Tetapi janji itu tidak langsung digenapi.
Abraham harus berjalan dalam proses yang panjang. Ia harus belajar percaya, menunggu, taat, dan berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika belum melihat hasilnya.
Ishak, anak perjanjian itu, baru lahir ketika Abraham berusia 100 tahun. Artinya, dari panggilan Tuhan sampai janji itu digenapi, ada sekitar 25 tahun masa penantian.
Namun masa penantian itu bukan waktu yang terbuang.
Tuhan sedang membentuk iman Abraham.
Tuhan sedang membentuk ketaatannya.
Tuhan sedang mengajar Abraham untuk bergantung bukan pada kemampuannya sendiri, tetapi pada janji Tuhan.
Kadang kita juga ada di musim seperti itu.
Kita melihat orang lain sepertinya lebih cepat berhasil.
Lebih cepat menikah.
Lebih cepat punya anak.
Lebih cepat mapan.
Lebih cepat sampai pada titik yang kita doakan.
Namun hidup bersama Tuhan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Ada proses yang Tuhan izinkan karena proses itu diperlukan.
Mungkin hari ini kamu merasa belum sampai. Tetapi bukan berarti Tuhan melupakanmu. Bisa jadi Tuhan sedang membentuk sesuatu di dalam dirimu yang jauh lebih penting daripada pencapaian yang sedang kamu tunggu.
Karena panggilan Tuhan selalu sesuai dengan waktu-Nya.
Abraham tidak dipanggil karena hidupnya sudah sempurna. Ia dipanggil, lalu dibentuk sepanjang perjalanan.
Demikian juga dengan kita.
Tuhan tidak menunggu sampai hidup kita sempurna untuk mulai bekerja. Sering kali justru di tengah penantian, ketidakpastian, dan proses yang panjang, Tuhan sedang melakukan pekerjaan-Nya yang terbesar.
Jika hari ini kamu merasa tertinggal, ingatlah:
Tuhan tidak pernah terlambat.
Ia tahu kapan harus memanggil.
Ia tahu kapan harus membuka jalan.
Ia tahu kapan kita siap menerima apa yang selama ini kita doakan.
Jangan membandingkan perjalananmu dengan orang lain, karena Tuhan tahu waktu yang paling tepat.
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
(Pengkhotbah 3:11)
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Terima kasih atas penyertaan-Mu dalam hidup kami sampai hari ini. Ampunilah kami karena sering kali ingin segala sesuatu terjadi sesuai dengan waktu dan keinginan kami sendiri. Ajar kami untuk percaya bahwa waktu-Mu selalu yang terbaik. Mampukan kami untuk menyerahkan setiap rencana, harapan, dan pergumulan ke dalam tangan-Mu. Biarlah kami tetap setia berjalan bersama-Mu dan percaya bahwa kehendak-Mu jauh lebih baik daripada apa yang kami pikirkan. Jadilah kehendak-Mu dalam hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. 🙏🏻
