Ruang Sela Logo
Ruang SelaDaily Devotion
pertumbuhan-rohani • kasih23 Juni 20264 menit baca 29

Berada di Rumah Bapa, Tetapi Tidak Mengenal Hati Bapa

Berada di Rumah Bapa, Tetapi Tidak Mengenal Hati Bapa

"Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. "

Lukas 15 : 31

Ketika mendengar perumpamaan anak yang hilang, kebanyakan orang langsung fokus kepada anak bungsu.

Ia meninggalkan rumah.

Menghabiskan warisannya.

Jatuh dalam dosa.

Lalu kembali kepada bapanya.

Namun ada satu tokoh lain yang sering luput dari perhatian.

Anak sulung.

Ia tidak pernah meninggalkan rumah.

Ia tetap setia.

Ia tetap bekerja.

Ia tetap bersama bapanya.

Tetapi ketika adiknya pulang dan disambut dengan sukacita, ia marah.

Ia berkata, “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

(Lukas 15:29)

Dari sudut pandang anak sulung, perasaannya mungkin dapat dimengerti. Ia melihat dirinya sebagai anak yang setia. Ia tetap tinggal di rumah. Ia tetap melayani. Ia tidak menghabiskan warisan.

Sedangkan adiknya pergi meninggalkan rumah, menghamburkan harta, dan mempermalukan keluarga.

Lalu mengapa ketika kembali, adiknya justru disambut dengan pesta?

Mengapa ia dipakaikan jubah?

Diberi cincin?

Dan dirayakan dengan sukacita?

Anak sulung merasa bapanya tidak adil.

Namun melalui respons sang bapa, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa sebenarnya ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi di hati anak sulung.

1. Hubungan dengan Bapa bukan hubungan transaksional

Perhatikan perkataan anak sulung,

“Telah bertahun-tahun aku melayani bapa…”

(Lukas 15:29)

Ia mulai menghitung.

Menghitung kesetiaannya.

Menghitung ketaatannya.

Menghitung pelayanannya.

Seolah-olah ia berkata, “Aku sudah melakukan semuanya dengan benar. Mengapa aku tidak mendapat apa yang dia dapatkan?”

Tanpa sadar, hubungannya dengan bapanya telah berubah menjadi hubungan yang transaksional. Ia melihat kesetiaan sebagai sesuatu yang harus dibayar. Ia melihat pelayanan sebagai sesuatu yang harus diberi imbalan.

Bukankah kadang kita juga seperti itu?

“Aku sudah melayani.”

“Aku sudah berdoa.”

“Aku sudah berusaha taat.”

Lalu kita mulai bertanya, “Tuhan, kenapa hidupku masih seperti ini?”

Hubungan dengan Tuhan perlahan berubah menjadi transaksi. Padahal Tuhan tidak memanggil kita menjadi hamba yang mengejar upah. Dia mengundang kita hidup sebagai anak-anak-Nya.

2. Ia lupa identitasnya sebagai anak

Sang bapa menjawab, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku…”

(Lukas 15:31)

Perhatikan kata pertama yang keluar dari mulut sang bapa

“Anakku.”

Sebelum berbicara tentang warisan.

Sebelum berbicara tentang pesta.

Sebelum berbicara tentang apa pun.

Sang bapa mengingatkan identitasnya.

Kamu adalah anakku.

Masalah anak sulung bukan karena ia kurang diberkati. Masalahnya adalah ia lupa siapa dirinya. Ia tinggal di rumah bapanya, tetapi berpikir seperti seorang hamba.

Ia berbicara tentang jasa.

Ia berbicara tentang upah.

Ia berbicara tentang apa yang pantas ia terima.

Padahal bapanya melihatnya sebagai anak.

3. Ia sulit menerima kasih karunia

Anak sulung bukan marah karena adiknya berdosa.

Ia marah karena adiknya diampuni.

Ia sulit menerima bahwa seseorang yang telah jatuh begitu jauh masih dapat diterima kembali dengan penuh kasih.

Dipeluk.

Dipulihkan.

Diterima kembali sebagai anak.

Padahal sang bapa tidak merayakan dosa anak bungsu. Ia merayakan pertobatannya.

Anak bungsu tidak diterima karena ia layak. Ia diterima karena ia adalah anak.

Dan menariknya, anak sulung juga tidak dikasihi karena kesetiaannya. Ia dikasihi karena ia adalah anak. Keduanya berdiri di atas dasar yang sama yaitu, kasih sang Bapa.

4. Ia fokus pada apa yang tidak dimiliki

Anak sulung berkata, “Kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing…”

(Lukas 15:29)

Ia fokus pada satu hal yang menurutnya tidak ia miliki. Sampai lupa melihat semua yang sudah menjadi miliknya.

Lalu sang bapa berkata, “dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

(Lukas 15:31)

Jawaban ini sangat menarik.

Sang bapa tidak berkata, “Nanti aku akan memberimu.”

Ia berkata, “Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Artinya, masalah anak sulung bukan karena bapanya tidak mau memberi. Masalahnya adalah ia tidak menyadari apa yang sebenarnya sudah ia miliki. Apa yang diterima adiknya tidak mengurangi bagiannya.

Kasih bapanya tidak berkurang.

Warisannya tidak berkurang.

Kedudukannya sebagai anak tidak berkurang.

Ia merasa kekurangan. Padahal ia hidup dalam kelimpahan.

Ia merasa tidak diberi. Padahal ia sudah memiliki.

Ia fokus pada seekor anak kambing. Tetapi lupa bahwa seluruh milik bapanya tersedia baginya.

5. Berkat terbesar adalah hidup bersama Bapa

Menariknya, sebelum berkata, “Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu,”

sang bapa terlebih dahulu berkata, “Engkau selalu bersama-sama dengan aku.”

(Lukas 15:31)

Seolah-olah Tuhan Yesus sedang menunjukkan urutannya.

Pertama: kebersamaan dengan Bapa.

Baru kemudian: segala milik Bapa.

Anak sulung begitu fokus pada apa yang belum ia terima. Sampai lupa bahwa ia telah memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga.

Ia selalu bersama bapanya.

Pada akhirnya, hadiah terbesar bukanlah warisan.

Bukan pesta.

Bukan seekor anak kambing.

Hadiah terbesar adalah hidup bersama Bapa.

Dan bukankah itu juga inti dari keselamatan? Bukan sekadar menerima sesuatu dari Tuhan. Melainkan dipulihkan untuk hidup bersama-Nya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Terima kasih atas kasih karunia-Mu yang begitu besar dalam hidup kami. Ampuni kami jika kami sering menghitung jasa, membandingkan diri dengan orang lain, dan lupa akan semua kebaikan yang telah Engkau berikan. Ajarkan kami untuk mengenal hati-Mu dan hidup sebagai anak-anak-Mu. Tolong kami untuk selalu bersyukur, karena berkat terbesar yang kami miliki adalah hidup bersama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin🙏🏻

Bagikan:WhatsApp

Terima devotion via email

Dapatkan renungan harian langsung di inbox kamu setiap paginya.

Daftar Sekarang